Rabu, 28 Agustus 2024

Kerajaan Medang (Mataram Kuno)


.............
(bahasa Jawa Kuno: ; kaḍatwan mḍaŋ) atau sering disebut Kerajaan Mataram atau Mataram Kuno adalah kerajaan agraris sekaligus talasokrasi yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 Masehi, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi, yang didirikan oleh Sanjaya. Kerajaan ini dipimpin oleh wangsa Syailendra dan wangsa Isyana.
● kerajaan medang atau yang dikenal mataram kuno.Tahun 907 Masehi, yang berasal dari Wangsa Sanjaya.
Prasasti Mantyasih menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa kuno terlalu peduli pada soal-soal dokumentasi dan kearsipan. Dalam prasasti ini menyebutkan daftar raja Mataram Kuno yaitu:
●ta sak rahyang ta rumuhun. sirangbăsa ing wanua. sang mangdyan kahyaňan. sang magawai kadatwan. sang magalagah pomahan. sang tomanggöng susuk. sang tumkeng wanua gana kandi landap nyan paka çapatha kamu. rahyan
●ta rumuhun. ri mdang. ri poh pitu. rakai mataram. sang ratu sańjaya. çri mahǎrǎja rakai panangkaran. çri mahǎrǎja rakai panunggalan. çri mahǎrǎja rakai warak. çri mahǎrǎja rakai garung. çri mahǎrǎja rakai pikatan
●çri mahǎrǎja rakai kayuwańi. çri mahǎrǎja rakai watuhumalang. lwiha sangkā rikā landap nyān paka çapatha çri mahǎrǎja rakai watukura dyah balitung dharmmodaya mahāçambhu.
Terjemah
Daftar nama raja dalam prasasti.
1.Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya (732–760),
2.Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760–780),
3.Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780–800),
4.Sri Maharaja Rakai Warak (800–820),
5.Sri Maharaja Rakai Garung (820–840),
6.Sri Maharaja Rakai Pikatan (840–856),
7.Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856–882),
8.Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882–899),
9.Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung (898–915),
Daftar raja Medang yang lengkap tertulis di prasasti Wanua tengah. disertai tanggal dan tahun memerintah kendati demikian, prasasti mantyasih ini tidak disertai tahun memerintah namun satu kesatuan.


Kamis, 15 Agustus 2024

SEJARAH & KRONOLOGI PENEMUAN CANDI BOROBUDUR



Candi Borobudur, salah satu mahakarya arsitektur kuno, dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, dan dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Borobudur dibangun sebagai tempat ibadah dan ziarah umat Buddha, dengan desain yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana.
Struktur candi Borobudur terdiri dari sepuluh tingkat, yang menggambarkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju nirwana, yang diwakili oleh stupa terbesar di puncak candi. Selama berabad-abad, Borobudur mengalami masa kejayaan dan kemunduran, sebelum akhirnya terlupakan dan tersembunyi oleh hutan lebat serta tertimbun abu vulkanik.
KRONOLOGI PENEMUAN KEMBALI CANDI BOROBUDUR
1. Terlupakan dan Terlupakan (Abad ke-10 hingga Abad ke-19)
1.1 Setelah sekitar dua abad digunakan sebagai tempat ibadah, Candi Borobudur perlahan mulai ditinggalkan. Diperkirakan, gempa bumi besar dan letusan Gunung Merapi menyebabkan daerah sekitar Borobudur ditinggalkan oleh penduduknya, sehingga candi tersebut mulai terkubur dan terlupakan. Pada abad ke-10, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno pun pindah ke Jawa Timur, menjauh dari Borobudur. Hutan dan vegetasi yang tumbuh subur di wilayah ini semakin menutupi candi hingga akhirnya nyaris hilang dari ingatan sejarah.
2. Legenda Ksatria dalam Sangkar
2.1 Selama periode terlupakannya Borobudur,
ratusan tahun kemudian, ketika orang mulai membuka hutan untuk ladang dan pemukiman, penduduk menemukan bukit batu yang penuh dengan batu berukir. Bukit batu tersebut disebut Redi Borobudur atau Bukit Borobudur.
Salah satu legenda yang terkenal adalah tentang "ksatria dalam sangkar." Konon, di tengah bukit itu terdapat sangkar batu yang mengurung seorang ksatria. Kabar arca ksatria terkurung dalam sangkar itu segera menyebar dan sampai di kalangan bangsawan istana Kerajaan Mataram di Yogyakarta. Tahun 1758, seorang pangeran dari Kerajaan Mataram Yogyakarta mengunjungi Redi Borobudur ini karena ingin melihat arca ksatria yang terkurung dalam sangkar tersebut. Namun, sepulang dari sana, sang pangeran tersebut meninggal dunia.
Kabar meninggalnya sang pengeran semakin membuat Bukit Borobudur angker dan keramat.
3. MASA PENJAJAHAN INGGRIS (1811-1816)
3.1 Candi Borobudur ditemukan kembali pada masa penjajahan Inggris di Jawa. Penemuan ini diawali oleh laporan seorang inspektur Belanda bernama Cornelius, yang mendengar adanya tumpukan batu yang mencurigakan di hutan dekat desa Bumisegoro, Magelang. Atas perintah Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, Cornelius melakukan penyelidikan pada tahun 1814. Ia melakukan pembersihan sebagian dari vegetasi yang menutupi candi dan melaporkan temuannya kepada Raffles. Kisah tentang ksatria dalam sangkar mungkin turut memengaruhi rasa penasaran untuk menelusuri lebih jauh area tersebut.
4. EKSKAVASI AWAL (1835)
4.1 Setelah berakhirnya masa pemerintahan Inggris dan kembalinya Jawa ke tangan Belanda, upaya untuk menggali dan memulihkan Borobudur dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1835, seluruh bagian candi berhasil diekskavasi dan dibersihkan dari tanaman liar. Seorang insinyur Belanda bernama Hartmann melakukan penggalian lebih lanjut dan menemukan bagian-bagian yang lebih tersembunyi dari candi ini. Relief-relief dan stupa-stupa yang mengungkapkan arca Buddha yang tertutup di dalamnya membuat legenda tentang ksatria dalam sangkar menjadi relevan.
5. STUDI & PEMUGARAN AWAL (1907-1911)
5.1 Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda menginisiasi proyek pemugaran besar-besaran untuk Candi Borobudur di bawah arahan arkeolog Belanda, Theodoor van Erp. Selama periode 1907 hingga 1911, van Erp memimpin upaya untuk memperbaiki struktur candi yang rusak dan membersihkan relief-reliefnya yang terancam oleh kerusakan akibat erosi dan faktor alam lainnya. Pemugaran ini melibatkan pembongkaran dan penyusunan ulang bagian-bagian candi yang rapuh, serta mengamankan struktur bangunan.
6. PEMUGARAN BESAR (1973-1983)
6.1 Pada tahun 1970-an, Candi Borobudur menghadapi ancaman serius dari kerusakan akibat pelapukan dan pengendapan air. Pemerintah Indonesia, dengan bantuan UNESCO, meluncurkan proyek pemugaran besar yang berlangsung dari tahun 1973 hingga 1983. Pemugaran ini melibatkan pembongkaran seluruh bagian candi, memperbaiki fondasi, dan memasang sistem drainase yang baru untuk mencegah penumpukan air. Setelah sepuluh tahun, Borobudur kembali berdiri dengan megah sebagai situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO.
Penemuan kembali Candi Borobudur dan usaha-usaha untuk memugar dan melestarikannya merupakan upaya panjang yang melibatkan banyak pihak. Dari masa penjajahan Inggris hingga proyek besar UNESCO, Borobudur kini berdiri tegak sebagai simbol kebanggaan bangsa Indonesia dan warisan budaya dunia yang tak ternilai. Legenda yang berkembang selama candi ini tersembunyi, seperti kisah ksatria dalam sangkar, menambah dimensi mistis dan budaya dari situs ini.
Referensi:
1. Soekmono, R. (1976). "Candi Borobudur: Sejarah dan Pemugarannya". Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
2. Soedarsono, R.M. (1983). "Legends of Central Java". Jakarta: Balai Pustaka.
3. Raffles, T. S. (1817). "The History of Java". London: Black, Parbury, and Allen.
4. Haryono, J. (2008). "Borobudur: The Complete Guide to the Buddhist Wonder of Indonesia". Yogyakarta: Tuttle Publishing.

Senin, 05 Agustus 2024

MEGANTROPUS PALAEOJAVANICUS


MANUSIA PURBA RAKSASA JAWA


Megantropus palaeojavanicus adalah salah satu fosil hominid yang ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah, Indonesia. Fosil ini pertama kali ditemukan oleh antropolog Jerman, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, pada tahun 1936. Von Koenigswald adalah seorang ahli paleontologi dan antropologi yang banyak melakukan penelitian di kawasan Asia Tenggara, terutama di Indonesia.
TEMPAT PENEMUAN
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi yang terletak di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini dikenal sebagai salah satu tempat penemuan fosil manusia purba terpenting di dunia. Fosil Megantropus palaeojavanicus ditemukan dalam lapisan tanah Pleistosen yang berusia sekitar 1,5 hingga 1,0 juta tahun.
KARAKTERISTIK & UKURAN
Megantropus palaeojavanicus memiliki ciri-ciri fisik yang cukup unik. Mereka memiliki rahang yang sangat besar dan kuat, serta gigi yang lebih besar dibandingkan dengan Homo erectus. Ukuran tengkoraknya juga lebih besar, sehingga banyak yang menganggap bahwa Megantropus merupakan manusia raksasa. Berdasarkan ukuran fosil yang ditemukan, diperkirakan tinggi badan Megantropus bisa mencapai sekitar 1,8 hingga 2,0 meter dengan berat badan yang cukup besar dan berotot, menunjukkan adanya adaptasi terhadap lingkungan yang keras dan makanan yang keras.
Jika dirinci ciri – ciri Meganthropus Paleojavanicus :
-Bertubuh kekar dan tegap
-Makanan pokok adalah tumbuhan
-Memiliki tulang rahang yang kuat
-Tidak memiliki dagu
-Menunjukkan ciri – ciri manusia tetapi mendekati kera
-Berbadan besar dan tegap
-Diperkirakan berasal dari 2-1 juta tahun yang lalu
MITOS MANUSIA RAKSASA
Penemuan Megantropus palaeojavanicus sering kali dikaitkan dengan mitos manusia raksasa yang ada di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa cerita rakyat di Indonesia, terdapat legenda tentang manusia raksasa yang hidup di masa lampau. Misalnya, dalam budaya Jawa, ada kisah tentang raksasa yang kuat dan memiliki ukuran tubuh yang sangat besar.
Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung adanya manusia raksasa dalam arti sebenarnya, fosil Megantropus palaeojavanicus menunjukkan bahwa ada hominid dengan ukuran tubuh yang lebih besar daripada manusia modern. Hal ini mungkin menjadi dasar bagi berkembangnya mitos tentang manusia raksasa dalam budaya lokal.
Penemuan fosil Megantropus palaeojavanicus tidak hanya memberikan wawasan tentang evolusi manusia di Asia Tenggara tetapi juga menunjukkan bagaimana temuan ilmiah dapat berinteraksi dengan cerita rakyat dan mitos yang ada dalam masyarakat.
Referensi :
1. Von Koenigswald, G. H. R. (1950). "Meganthropus palaeojavanicus, a fossil hominid from Java". "Proceedings of the Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen".
2. Sartono, S. (1982). "Fossil Man in Indonesia". "Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association".
3. Keates, S. G. (2007). "Sangiran: Early Man in Java in a World Context". "Routledge".
4. Jacob, T. (1967). "Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesian Region". "Holarctic Fauna", no. 30.
5. Larick, R. (1997). "Paleoanthropological Research in the Sangiran Dome, Central Java, Indonesia". "Journal of Human Evolution", 33(5-6), 691-693.
6. National Geographic Indonesia. (2021). "Jejak Fosil Manusia Purba di Sangiran". National Geographic Indonesia. [Link](https://nationalgeographic.grid.id/.../jejak-fosil...).
7. Smithsonian National Museum of Natural History. "Human Fossils: Meganthropus palaeojavanicus". [Link](https://humanorigins.si.edu/.../meganthropus-palaeojavanicus)

Jumat, 26 Juli 2024

 Silsilah raja raja Mataram pertama hingga Sultan jogja dan Pangeran Pakualaman sejak 1575

Sy teruskan ke atas....ki Ageng Pamanahan bin Ki Ageng Enis bin Ki Ageng Sela bin Ki Getas Pandawa bin Dyah Lembu Peteng/Bondan Kejawan bin Prabu Kertabumi bin Rajasawardhana bin Kertawijaya bin Aji Wikramawardana bin Shinghawardana Dyah Sumana (Suami Rajasaduhita Dyah Nertaja)



Rabu, 24 Juli 2024

SILSILAH IBUNDA PANGERAN DIPONEGORO

 SILSILAH IBUNDA PANGERAN DIPONEGORO



Sri Prabu Brawijaya V, raja Majapahit ke VII mempunyai putra 117 orang.Setelah runtuhnya Nagari Majapahit pada tahun 1478 M semua putra Raja Brawijaya V keluar dari istana dan menyebar berkelana. Salah satunya adalah putra bungsunya yaitu putra ke 117 yang bernama Raden Joko Dolog, Beliau berkelana dan bertapa di pinggir Kali Progo dan berganti nama Wasi Bageno.Setelah beberapa bulan bertapa di Kali Progo, Wasi Bageno meneruskan perjalanan dan berguru kepada Sunan Kalijaga di Gunung Jambalkat di Tanah Bayat, disana beliau mendapat wejangan agama Islam dan berpindah menganut agama Islam. Setelah beberapa bulan di Gunung Jabalkat dan dirasa ilmunya sudah cukup, beliau kemudian diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk turun dan menyebarkan agama Islam. Akhirnya Wasi Bageno atau Raden Joko Dolog kemudian mendirikan sebuah Dukuh yang dinamakan Pedukuhan Jatinom dan menyebarkan agama Islam disana hingga wafatnya dan dimakamkan di Jatinom.
Raden Joko Dolog menurunkan :
1. Nyai Ajeng Pangeran Panggung wasisworo
2. Wasi Djiwo
Nyai Ajeng Pangeran Panggung Wasisworo menikah dengan Pangeran Panggung Wasisworo . Pangeran Panggung Wasisworo adalah putra dari Pangeran Kundurawan I , P. Kundurawan atau Raden Pamekas adalah putra dari raja Brawijaya IV. Setelah runtuhnya Nagari Majapahit , P Kundurawan melarikan diri ke tanah Cirebon dan berguru kepada Sunan Mojogung I , setelah berpindah agama Islam diberi nama Pangeran Kundurawan I . Beliau wafat dan dimakamkan di Cirebon .
Dari pernikahan Nyai Ajeng Pangeran Panggung Wasisworo menurunkan :
1. Kanjeng Pangeran Alas , wafat dan dimakamkan di Delanggu.
Pangeran Alas menurunkan :
1. Tg Parampelan , Mantri Pajang.
2. Pangeran Pangalasan Domas.
Tumenggung Parampelan:
Tumenggung Parampelan menikah dengan putri Tg Mayang Pajang berputra :
1. Ki Ageng Parampelan II
2. Raden Ayu Benowo, menikah dengan Pangeran Benowo Putra Sultan Hadiwijaya Pajang
Dari pernikahan R Ay Benowo dengan Pangeran Benowo menurunkan :
Nyai Gendung Barung
Pangeran Pangalasan Domas:
Pangeran Pangalasan Domas menurunkan Pangeran Tumenggung,
P. Tumenggung Pengalasan menurunkan Kyai Gendung Barung.
Kyai Gendung Barung menikah dengan putri Pangeran Benowo Pajang menurunkan Kyai Gendung Barung II,
Kyai Gendung Barung II menurunkan Kyai Gendung Barung III ,
Kyai gendung Barung III menurunkan Kyai Nurngalim I,
Kyai Nur Ngalim I menurunkan Kyai Nur Ngalim II,
Kyai Nur Ngalim II menurunkan Kyai Nur Ngalim III,
Kyai nur Ngalim III menurunkan Kyai Ngabehi Singat Sedoso,
Kyai Ngabehi Singat Sedoso menurunkan Raden Ayu Mangkorowati, R Ay Mangkorowati menjadi garwa ampil Sri Sultan Hamengkubuwana III menurunkan RM Ontowiryo setelah dewasa bergelar KPH Diponegoro dan lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro
(sinau sejarah nuswantoro)

9 orang Raja-Raja Eropa

 ini adalah foto yang diambil pada tahun 1910. Yang memperlihatkan 9 orang Raja-Raja Eropa yang sedang berkumpul saat Pemakaman Raja Edward VII. namun berselah 4 Tahun kemudian setelah foto ini diabadikan, Ke 9 Raja ini saling berperang Satu sama Lain. 

Selasa, 23 Juli 2024

BALOK DINGIN YANG MAHAL



Jika kita masih berfikir batu es baru ada saat terciptanya kulkas di Indonesia tentu anda salah.
Tahun 1846 balok es sudah sampai ke Batavia dikirim langsung dari Amerika via Boston.
Tepatnya tanggal 18 November 1846.
Hadirnya es batu pada saat itu menghebohkan masyarakat Indonesia heboh.
Es batu pertama kali dipesan oleh Roselie En Co untuk tentu saja hanya kalangan kaum elit Belanda yang berada di kawasan Batavia yang menikmatinya.
Es batu merupakan hidangan yang mewah pada masanya. 500 gram es batu pada saat itu harganya sekitar 10 sen Gulden, atau setara dengan 87.000 Rupiah.
Pada tahun 1870, Indonesia tidak mengimpor es batu lagi dari Amerika Serikat, karena sudah ada pabrik es batu di Batavia, sekarang Jakarta yang dipelopori oleh Kwa Wan Hong.
Dengan meningkatnya peminat es batu, Hong mulai meluaskan produksi pabrik es nya di berbagai daerah yang ada di Indonesia, salah satunya di Semarang pada tahun 1895.
Pada abad ke-20 hingga abad ke-21, es batu bisa dinikmati oleh semua orang dan dapat dibuat sendiri.
Dari berbagai sumber

Kamis, 18 Juli 2024

SI RAJA BATAK

 



Si Raja Batak adalah tokoh legendaris yang dianggap sebagai nenek moyang dari Suku Batak, yang mendiami wilayah sekitar Danau Toba di Sumatra Utara. Berikut adalah beberapa aspek penting mengenai Si Raja Batak:

Legenda dan Mitos

Asal Usul:
Menurut legenda Batak, Si Raja Batak turun dari kayangan ke bumi dan menetap di sekitar Pusuk Buhit, sebuah gunung suci di sekitar Danau Toba. Dari sini, ia dan keturunannya kemudian menyebar ke seluruh wilayah yang sekarang dikenal sebagai tanah Batak.

Turun dari Langit:
Dikisahkan bahwa Si Raja Batak adalah keturunan langsung dari Mulajadi Nabolon, dewa tertinggi dalam mitologi Batak. Ia turun ke bumi bersama dengan istri dan keluarganya untuk memulai kehidupan di dunia.

Peran dan Pengaruh
Leluhur Suku Batak:
Si Raja Batak dianggap sebagai leluhur dari semua marga (klan) Batak. Setiap marga Batak mengklaim keturunan dari anak-anak dan cucu-cucu Si Raja Batak, yang kemudian berkembang menjadi marga-marga seperti Siregar, Harahap, Nasution, Sinaga, Siahaan, Simanjuntak, dan lain-lain.

Sistem Kekerabatan:
Dalam budaya Batak, sistem kekerabatan sangat penting. Marga-marga yang ada saat ini masih sangat menghormati hubungan genealogis mereka dengan Si Raja Batak, dan ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial dan adat mereka.

Warisan dan Budaya
Adat Istiadat:
Banyak adat istiadat Batak yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, termasuk Si Raja Batak. Upacara adat seperti Mangokkal Holi (pemindahan tulang belulang leluhur) menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap leluhur.

Pusuk Buhit:
Pusuk Buhit, tempat yang diyakini sebagai asal mula Si Raja Batak, dianggap suci dan sering dikunjungi oleh orang Batak sebagai tempat ziarah. Tempat ini juga menjadi simbol identitas dan warisan budaya Batak.

Marga Batak
Perkembangan Marga: Anak-anak dan cucu-cucu Si Raja Batak, melalui perkawinan dan penyebaran, membentuk marga-marga yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Sumatra Utara. Setiap marga memiliki sejarah dan mitosnya sendiri, namun semuanya kembali kepada Si Raja Batak sebagai leluhur utama.

Struktur Sosial:
Sistem marga ini menciptakan struktur sosial yang kompleks dan saling terhubung dalam masyarakat Batak. Perkawinan antar marga, hubungan dongan tubu (saudara sedarah), hula-hula (keluarga pihak ibu), dan boru (keluarga pihak istri) semuanya diatur dengan ketat dalam sistem adat Batak.

Identitas dan Kebanggaan
Identitas Suku Batak:
Si Raja Batak menjadi simbol identitas bagi Suku Batak, mengingatkan mereka akan asal usul dan warisan mereka. Kebanggaan akan leluhur ini menjadi bagian integral dari budaya dan kebanggaan Suku Batak.

Pelestarian Budaya:
Cerita dan legenda tentang Si Raja Batak terus diceritakan dan dilestarikan melalui cerita lisan, upacara adat, dan pendidikan budaya, memastikan bahwa warisan ini tetap hidup di generasi mendatang.

Si Raja Batak bukan hanya tokoh legendaris dalam mitologi Batak, tetapi juga simbol yang mempersatukan dan mengingatkan Suku Batak akan asal usul dan warisan budaya mereka.

Image hanya pemanis dan rekayasa teknologi
#batak #sukubatak

Rabu, 17 Juli 2024

WIKRAMAWARDANA

 WIKRAMAWARDANA




Wikramawardhana dalam Pararaton bergelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana. Nama aslinya adalah Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana.

Permaisurinya, yaitu Kusumawardhani adalah putri Hayam Wuruk yang lahir dari Sri Sudewi disebut juga Paduka sori. Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365), Kusumawardhani dan Wikramawardhana diberitakan sudah menikah. Padahal waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun. Maka, dapat dipastikan kalau kedua sepupu tersebut telah dijodohkan sejak kecil.

Dari perkawinan itu, lahir putra mahkota bernama Rajasakusuma bergelar Hyang Wekasing Sukha, yang meninggal sebelum sempat menjadi raja.

Pararaton juga menyebutkan, Wikramawardhana memiliki tiga orang anak dari selir, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya.

Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram putri Bhre Pandansalas. Ia menggantikan Rajasakusuma sebagai putra mahkota, tetapi juga meninggal sebelum sempat menjadi raja.

Kedudukan sebagai pewaris takhta Majapahit kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi.

Senin, 15 Juli 2024

Ornamen masa Dharmawangsa Teguh

 Komponen ornamen yg serupa antara pentirtaan belahan pasuruan & pentirtaan dewi sri di magetan Jawa timur.

Pentirtaan belahan memiliki sengkalan/kronogram berangka tahun 931 saka (1009 M). Kira2 bertepatan dengan masa berkuasa Medang periode Jawa timur dibawah Darmawangsa Teguh.
Sekitar kompleks pentirtaan Dewi sri ditemukan beragam artefak seperti tujuh miniatur rumah/lumbung, tujuh fragmen arca, satu palung batu, satu fragmen yoni, satu sumur kuno, dan satu fragmen kemuncak.
Di atap miniatur rumah terdapat 2 inskripsi yg berangka tahun 983 M (masa Raja Makutawangsawardana) & 995 M (masa Raja Darmawangsa teguh).

Sabtu, 13 Juli 2024

Warung Asem dan Laskar Diponegoro


 Ketika perang Diponegoro pecah pada tahun 1828, banyak prajurit serta laskar Pangeran Diponegoro yang diletakkan di Batang, khususnya Kyai Surgijatikusumo sebagai Panewu. Panewu sendiri bisa diartikan sebagai abdi yang membawahi sekitar 1.000 prajurit. Kyai Surgijatikusumo bersahabat dengan Kyai Tholabudin yaitu seorang ulama di desa Masin kala itu. Mendengar perjuangan Pangeran Diponegoro lewat Kyai Surgijatikusumo, banyak masyarakat sekitar yang simpati dan mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Kemudian Kyai Surgijatikusumo bersama Kyai Tholabudin menyusun strategi dengan sandi-sandi khusus yang hanya diketahui oleh prajurit serta laskar Pangeran Diponegoro, sehingga tempatnya tidak dicurigai oleh Belanda dan antek-anteknya kala itu. Dengan membangun sebuah warung yang ditanami pohon asem jawa yang ditanam berjajar, bila dirumah diselingi dengan pohon sawo berjajar dan ada sumur yang berada dibelakang sebelah kiri. Ciri-ciri itu yang digunakan untuk mengenali sesama prajurit dan laskar Pangeran Diponegoro.
Warung itu dipergunakan sebagai tempat bertemunya telik sandi Pangeran Diponegoro menyampaikan informasi, sehingga tidak dicurigai oleh Belanda dan antek-anteknya. Seiring berkembangnya jaman, Warung yang ditanami pohon asam jawa berjajar yang sekaligus sebagai sandi atau kode etik bagi prajurit dan laskar Pangeran Diponegoro itu dikenal dengan sebutan WARUNG ASEM. Dan Saat ini tempat warung itu berdiri menjadi sebuah desa dan terus berkembang menjadi salah satu kecamatan di Batang yaitu KECAMATAN WARUNGASEM.
Tentang ketokohan dan penggunaan sandi menggunakan pohon asem jawa, pohon sawo serta sumur yang ada dibelakang sebelah kiri, juga pernah disinggung dalam pertemuan di Rumah Sogan Pekalongan dengan tema Prajurit dan Laskar Pangeran Diponegoro yang Ada di Pekalongan.
Sedikit cerita ini bersumber dari Uztadz Ramelan (Alm) Masin ketika beliau masih hidup dan menjabat sebagai wakil ketua Paguyuban Tosan Aji Abirawa Kabupaten Batang.

Jumat, 12 Juli 2024

Sunda Land Map


 

🇮🇩 Dataran Sunda, sebuah dataran yang awalnya ada namun sudah tenggelam seiring zaman dikarenakan naiknya permukaan air laut.

Lihatlah pulau sumatra, jawa dan kalimantan masih menyatu saat itu 😮 pantas hewan seperti harimau juga ditemukan di pulau sumatra dan jawa, karena mereka bisa berjalan tanpa menyeberangi lautan kala itu.

Rabu, 10 Juli 2024

uang gulden jaman Belanda


Dulu uang gulden ini adalah alat pembayaran yang sah jaman Belanda nama mata uangnya gulden yang dikeluarkan oleh Djavache Bank, Hal ini didasarkan pada pengalaman bahwa pada tahun 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang.
Semua tanggapan

Belanda mendirikan VOC

 Pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan VOC. Sebelumnya, pada 1596, empat kapal dagang yang dipimpin Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Dengan kapal yang dipenuhi muatan rempah-rempah, mereka kemudian kembali ke Belanda. Kesuksesan mereka ini memicu para pedagang Belanda untuk datang ke Nusantara