Rabu, 28 Agustus 2024

Kerajaan Medang (Mataram Kuno)


.............
(bahasa Jawa Kuno: ; kaḍatwan mḍaŋ) atau sering disebut Kerajaan Mataram atau Mataram Kuno adalah kerajaan agraris sekaligus talasokrasi yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 Masehi, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi, yang didirikan oleh Sanjaya. Kerajaan ini dipimpin oleh wangsa Syailendra dan wangsa Isyana.
● kerajaan medang atau yang dikenal mataram kuno.Tahun 907 Masehi, yang berasal dari Wangsa Sanjaya.
Prasasti Mantyasih menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa kuno terlalu peduli pada soal-soal dokumentasi dan kearsipan. Dalam prasasti ini menyebutkan daftar raja Mataram Kuno yaitu:
●ta sak rahyang ta rumuhun. sirangbăsa ing wanua. sang mangdyan kahyaňan. sang magawai kadatwan. sang magalagah pomahan. sang tomanggöng susuk. sang tumkeng wanua gana kandi landap nyan paka çapatha kamu. rahyan
●ta rumuhun. ri mdang. ri poh pitu. rakai mataram. sang ratu sańjaya. çri mahǎrǎja rakai panangkaran. çri mahǎrǎja rakai panunggalan. çri mahǎrǎja rakai warak. çri mahǎrǎja rakai garung. çri mahǎrǎja rakai pikatan
●çri mahǎrǎja rakai kayuwańi. çri mahǎrǎja rakai watuhumalang. lwiha sangkā rikā landap nyān paka çapatha çri mahǎrǎja rakai watukura dyah balitung dharmmodaya mahāçambhu.
Terjemah
Daftar nama raja dalam prasasti.
1.Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya (732–760),
2.Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760–780),
3.Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780–800),
4.Sri Maharaja Rakai Warak (800–820),
5.Sri Maharaja Rakai Garung (820–840),
6.Sri Maharaja Rakai Pikatan (840–856),
7.Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856–882),
8.Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882–899),
9.Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung (898–915),
Daftar raja Medang yang lengkap tertulis di prasasti Wanua tengah. disertai tanggal dan tahun memerintah kendati demikian, prasasti mantyasih ini tidak disertai tahun memerintah namun satu kesatuan.


Kamis, 15 Agustus 2024

SEJARAH & KRONOLOGI PENEMUAN CANDI BOROBUDUR



Candi Borobudur, salah satu mahakarya arsitektur kuno, dibangun pada masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi di bawah pemerintahan Raja Samaratungga. Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, dan dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Borobudur dibangun sebagai tempat ibadah dan ziarah umat Buddha, dengan desain yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana.
Struktur candi Borobudur terdiri dari sepuluh tingkat, yang menggambarkan perjalanan manusia dari dunia fana menuju nirwana, yang diwakili oleh stupa terbesar di puncak candi. Selama berabad-abad, Borobudur mengalami masa kejayaan dan kemunduran, sebelum akhirnya terlupakan dan tersembunyi oleh hutan lebat serta tertimbun abu vulkanik.
KRONOLOGI PENEMUAN KEMBALI CANDI BOROBUDUR
1. Terlupakan dan Terlupakan (Abad ke-10 hingga Abad ke-19)
1.1 Setelah sekitar dua abad digunakan sebagai tempat ibadah, Candi Borobudur perlahan mulai ditinggalkan. Diperkirakan, gempa bumi besar dan letusan Gunung Merapi menyebabkan daerah sekitar Borobudur ditinggalkan oleh penduduknya, sehingga candi tersebut mulai terkubur dan terlupakan. Pada abad ke-10, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno pun pindah ke Jawa Timur, menjauh dari Borobudur. Hutan dan vegetasi yang tumbuh subur di wilayah ini semakin menutupi candi hingga akhirnya nyaris hilang dari ingatan sejarah.
2. Legenda Ksatria dalam Sangkar
2.1 Selama periode terlupakannya Borobudur,
ratusan tahun kemudian, ketika orang mulai membuka hutan untuk ladang dan pemukiman, penduduk menemukan bukit batu yang penuh dengan batu berukir. Bukit batu tersebut disebut Redi Borobudur atau Bukit Borobudur.
Salah satu legenda yang terkenal adalah tentang "ksatria dalam sangkar." Konon, di tengah bukit itu terdapat sangkar batu yang mengurung seorang ksatria. Kabar arca ksatria terkurung dalam sangkar itu segera menyebar dan sampai di kalangan bangsawan istana Kerajaan Mataram di Yogyakarta. Tahun 1758, seorang pangeran dari Kerajaan Mataram Yogyakarta mengunjungi Redi Borobudur ini karena ingin melihat arca ksatria yang terkurung dalam sangkar tersebut. Namun, sepulang dari sana, sang pangeran tersebut meninggal dunia.
Kabar meninggalnya sang pengeran semakin membuat Bukit Borobudur angker dan keramat.
3. MASA PENJAJAHAN INGGRIS (1811-1816)
3.1 Candi Borobudur ditemukan kembali pada masa penjajahan Inggris di Jawa. Penemuan ini diawali oleh laporan seorang inspektur Belanda bernama Cornelius, yang mendengar adanya tumpukan batu yang mencurigakan di hutan dekat desa Bumisegoro, Magelang. Atas perintah Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, Cornelius melakukan penyelidikan pada tahun 1814. Ia melakukan pembersihan sebagian dari vegetasi yang menutupi candi dan melaporkan temuannya kepada Raffles. Kisah tentang ksatria dalam sangkar mungkin turut memengaruhi rasa penasaran untuk menelusuri lebih jauh area tersebut.
4. EKSKAVASI AWAL (1835)
4.1 Setelah berakhirnya masa pemerintahan Inggris dan kembalinya Jawa ke tangan Belanda, upaya untuk menggali dan memulihkan Borobudur dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1835, seluruh bagian candi berhasil diekskavasi dan dibersihkan dari tanaman liar. Seorang insinyur Belanda bernama Hartmann melakukan penggalian lebih lanjut dan menemukan bagian-bagian yang lebih tersembunyi dari candi ini. Relief-relief dan stupa-stupa yang mengungkapkan arca Buddha yang tertutup di dalamnya membuat legenda tentang ksatria dalam sangkar menjadi relevan.
5. STUDI & PEMUGARAN AWAL (1907-1911)
5.1 Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda menginisiasi proyek pemugaran besar-besaran untuk Candi Borobudur di bawah arahan arkeolog Belanda, Theodoor van Erp. Selama periode 1907 hingga 1911, van Erp memimpin upaya untuk memperbaiki struktur candi yang rusak dan membersihkan relief-reliefnya yang terancam oleh kerusakan akibat erosi dan faktor alam lainnya. Pemugaran ini melibatkan pembongkaran dan penyusunan ulang bagian-bagian candi yang rapuh, serta mengamankan struktur bangunan.
6. PEMUGARAN BESAR (1973-1983)
6.1 Pada tahun 1970-an, Candi Borobudur menghadapi ancaman serius dari kerusakan akibat pelapukan dan pengendapan air. Pemerintah Indonesia, dengan bantuan UNESCO, meluncurkan proyek pemugaran besar yang berlangsung dari tahun 1973 hingga 1983. Pemugaran ini melibatkan pembongkaran seluruh bagian candi, memperbaiki fondasi, dan memasang sistem drainase yang baru untuk mencegah penumpukan air. Setelah sepuluh tahun, Borobudur kembali berdiri dengan megah sebagai situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO.
Penemuan kembali Candi Borobudur dan usaha-usaha untuk memugar dan melestarikannya merupakan upaya panjang yang melibatkan banyak pihak. Dari masa penjajahan Inggris hingga proyek besar UNESCO, Borobudur kini berdiri tegak sebagai simbol kebanggaan bangsa Indonesia dan warisan budaya dunia yang tak ternilai. Legenda yang berkembang selama candi ini tersembunyi, seperti kisah ksatria dalam sangkar, menambah dimensi mistis dan budaya dari situs ini.
Referensi:
1. Soekmono, R. (1976). "Candi Borobudur: Sejarah dan Pemugarannya". Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
2. Soedarsono, R.M. (1983). "Legends of Central Java". Jakarta: Balai Pustaka.
3. Raffles, T. S. (1817). "The History of Java". London: Black, Parbury, and Allen.
4. Haryono, J. (2008). "Borobudur: The Complete Guide to the Buddhist Wonder of Indonesia". Yogyakarta: Tuttle Publishing.

Senin, 05 Agustus 2024

MEGANTROPUS PALAEOJAVANICUS


MANUSIA PURBA RAKSASA JAWA


Megantropus palaeojavanicus adalah salah satu fosil hominid yang ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah, Indonesia. Fosil ini pertama kali ditemukan oleh antropolog Jerman, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, pada tahun 1936. Von Koenigswald adalah seorang ahli paleontologi dan antropologi yang banyak melakukan penelitian di kawasan Asia Tenggara, terutama di Indonesia.
TEMPAT PENEMUAN
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi yang terletak di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini dikenal sebagai salah satu tempat penemuan fosil manusia purba terpenting di dunia. Fosil Megantropus palaeojavanicus ditemukan dalam lapisan tanah Pleistosen yang berusia sekitar 1,5 hingga 1,0 juta tahun.
KARAKTERISTIK & UKURAN
Megantropus palaeojavanicus memiliki ciri-ciri fisik yang cukup unik. Mereka memiliki rahang yang sangat besar dan kuat, serta gigi yang lebih besar dibandingkan dengan Homo erectus. Ukuran tengkoraknya juga lebih besar, sehingga banyak yang menganggap bahwa Megantropus merupakan manusia raksasa. Berdasarkan ukuran fosil yang ditemukan, diperkirakan tinggi badan Megantropus bisa mencapai sekitar 1,8 hingga 2,0 meter dengan berat badan yang cukup besar dan berotot, menunjukkan adanya adaptasi terhadap lingkungan yang keras dan makanan yang keras.
Jika dirinci ciri – ciri Meganthropus Paleojavanicus :
-Bertubuh kekar dan tegap
-Makanan pokok adalah tumbuhan
-Memiliki tulang rahang yang kuat
-Tidak memiliki dagu
-Menunjukkan ciri – ciri manusia tetapi mendekati kera
-Berbadan besar dan tegap
-Diperkirakan berasal dari 2-1 juta tahun yang lalu
MITOS MANUSIA RAKSASA
Penemuan Megantropus palaeojavanicus sering kali dikaitkan dengan mitos manusia raksasa yang ada di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa cerita rakyat di Indonesia, terdapat legenda tentang manusia raksasa yang hidup di masa lampau. Misalnya, dalam budaya Jawa, ada kisah tentang raksasa yang kuat dan memiliki ukuran tubuh yang sangat besar.
Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung adanya manusia raksasa dalam arti sebenarnya, fosil Megantropus palaeojavanicus menunjukkan bahwa ada hominid dengan ukuran tubuh yang lebih besar daripada manusia modern. Hal ini mungkin menjadi dasar bagi berkembangnya mitos tentang manusia raksasa dalam budaya lokal.
Penemuan fosil Megantropus palaeojavanicus tidak hanya memberikan wawasan tentang evolusi manusia di Asia Tenggara tetapi juga menunjukkan bagaimana temuan ilmiah dapat berinteraksi dengan cerita rakyat dan mitos yang ada dalam masyarakat.
Referensi :
1. Von Koenigswald, G. H. R. (1950). "Meganthropus palaeojavanicus, a fossil hominid from Java". "Proceedings of the Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen".
2. Sartono, S. (1982). "Fossil Man in Indonesia". "Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association".
3. Keates, S. G. (2007). "Sangiran: Early Man in Java in a World Context". "Routledge".
4. Jacob, T. (1967). "Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesian Region". "Holarctic Fauna", no. 30.
5. Larick, R. (1997). "Paleoanthropological Research in the Sangiran Dome, Central Java, Indonesia". "Journal of Human Evolution", 33(5-6), 691-693.
6. National Geographic Indonesia. (2021). "Jejak Fosil Manusia Purba di Sangiran". National Geographic Indonesia. [Link](https://nationalgeographic.grid.id/.../jejak-fosil...).
7. Smithsonian National Museum of Natural History. "Human Fossils: Meganthropus palaeojavanicus". [Link](https://humanorigins.si.edu/.../meganthropus-palaeojavanicus)