Foto pada postingan ini sudah tidak lagi asing bagi kami masyarakat Galela karena foto ini sudah tersebar dimana-mana dan bahkan dipercaya sebagai salah satu “KAPITA" yang berarti pemimpin perang dari Galela yaitu “LAHAMAJOUJO”.
Padahal kita ketahui bersama bahwa foto tersebut adalah salah satu bajak laut Galela yang ditangkap dan diadili di Ternate serta foto itu diabadikan oleh pihak Belanda pada abad ke-19 dengan keterangan foto “SOATILAO ZEEROVER GALELA HALMAHERA” yang bersumber dari “TROPENMUSEUM AMSTERDAM BELANDA”.
Sehingga bisa dipastikan bahwa foto tersebut bukanlah Kapita Lahajoujo karena beliau hidup pada abad ke-16 sedangkan foto diatas pada abad ke-19 retang waktu sangat jauh dan bahkan diabad ke-16 kamera belum masuk ke Maluku Utara sehingga di abad ke-16 Portugis menggunakan metode visual yaitu lukisan untuk mengambarkan situasi saat itu.
Selanjutnya kita kembali pada pembahasan foto tersebut dimana foto tersebut merupakan salah satu bajak laut Galela. Bajak Laut atau perompak dalam bahasa Belanda disebut “Zeerover” sedangkan orang Galela menyebut bajak laut sebagai “Canga” yang berasal dari kata “Sanga” yang berarti orang-orang yang menempuh perjalanan laut yang jauh.
Kata sanga ini juga ditulis oleh Bapak Yanuardi Syukur salah satu dosen Antorpologi Unkhair dalam tulisanya “ETOS KERJA CANGA” ia mengatakan bahwa “menurut Urbanus, canga dalam bahasa Tobelo adalah sanga. Yaitu suatu dinamika kehidupan yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara merantau melalui lautan, walaupun harus menghadapi berbagai tantangan alam, musuh, kelaparan, dan lain-lain”.
Sehingga kita bisa ketahui arti canga bagi orang Galela maupun Tobelo yang dimana canga tidak selamanya berkonotasi pada hal-hal negatif yang seperti saat ini kita pikirkan bahkan menggangap lelehur kita sebagai manusia-manusia yang tidak beradab.
Selanjutnya yang menjadi pembahasa menarik bagi saya adalah kata “Soatilao” apakah ini adalah nama dari bajak laut pada foto tersebut atau nama wilayah di Galela. Kita ketahui bersama bahwa diabad ke-18 hingga akhir abad ke-19 di Galela terdapat kampung dan dusun-dusun kecil, bahkan laporan survei pada tahun 1911 di Galela ditemukan 30 kampung itupun belum menyebut beberapa dusun yang bawahinya.
Masyarakat Galela menyebut kampung dengan sebutan “Doku” bukan “Soa” sedangkan soa dalam bahasa Galela berarti “sesuatu yang tinggal atau duduk disela antara” kata soa juga dipakai dibeberapa kampung di Galela yang berada dibawah pengaruh kesultanan Ternate seperti Soasio, Soakonora dan Soatabaru karena Soa dalam bahasa Ternate berarti kampung.
Lalu bagaimana dengan “Soatilao” apakah nama seseorang atau nama wilayah. Sudah pasti nama wilayah yaitu suatu dusun yang berada dipesisir pantai Galela. Dusun Soatilao ini adalah dusun yang juga telah hilang di Galela pada tahun 1662 bersamaan dengan dusun-dusun dibagian pedalaman dan pesisir yaitu :
1. Bora
2. Ngahi
3. Totoku
4. Kapupi
5. Sosora
6. Kaokao
7. Wasi
8. Gamsungi
9. Saki ma doku
10. Dowongi daare
11. Tetewanga magola
12. Tolohi ma lowo.
Hilangnya dusun-dusun ini menurut saya akibat dari; peperangan antara suku, ekspansi kesultanan Ternate, budaya pelayaran masyarakat saat itu sehingga meninggalkan tempat tinggalnya, dan kesengajaan masyarakat mengubah nama kampung/dusun atau menghilangkanya.
Jadi kalimat atau keterangan pada foto tersebut yaitu “SOATILAO ZEEROVER GALELA HALMAHERA” itu memiliki arti “Bajak Laut Dari Soatilao Galela Halmahera”. Sepak terjang orang Galela menjadi bajak laut sangat banyak penulis yang mengabadikannya dalam bentuk buku baik penulis lokal maupun bangsa asing.
Syukuru Idala-dala !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar