Narasi ini saya petik dari lapak "Marjafri" yang berkonsentrasi dalam mengungkap berbagai macam literasi kesejarahan di Pulau Sumatera. Dan bila Anda pemuja peradaban Majapahit hendaknya jangan tersinggung, karena apa-apa yang diceritakan pun belum tentu mengacu pada kebenaran persepsi.
Dan beginilah cerita mereka :
𝗕𝗔𝗕𝗔𝗧 𝗩𝗦 𝗛𝗜𝗞𝗔𝗬𝗔𝗧
Menurut Babat/Kakawin Negarakertagama karangan Empu Prapantja, Majapahit (1293–1527 M) adalah sebuah kemaharajaan Indonesia, yang kekuasaannya membentang diseluruh kepulauan Nusantara mulai dari Jawa, Sumatra (termasuk Minangkabau), Semenanjung Malaya, Kalimantan, Filipina (Kepulauan Sulu), Manila (Saludung), Sulawesi, Papua, dan lainnya.
Imperium tersebut berdiri berkat Sang Mahapatih "Gajah Mada" yang sukses melaksanakan sumpahnya yaitu "Sumpah Palapa" yang isinya berbunyi bahwa ia tidak akan memakan buah palapa jika belum berhasil menguasai pulau-pulau di Nusantara saat pengangkatan dirinya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).
Benarkah claim Prapantja dalam Kakawin Negarakertagama tersebut ?
Dalam Hikayat Raja Raja Pasai yaitu kitab yang menceritakan tentang sejarah kerajaan Islam pertama di Nusantara (Kerajaan Samudera Pasai, Aceh) terdapat kisah penaklukan Minangkabau oléh Balapasukan Majapahit dibawah pimpinan Sang Mahapatih yang mengalami kegagalan dan kekalahan telak saat beradu siasat dan kecerdasan dengan "Pateh Suatang" (Datuk Perpatih nan Sabatang *red).
Berikut admin kutip kisah kekalahan pasukan kemaharajaan Majapahit yang tertuang dalam kitab Hikayat Raja Raja Pasai tersebut diatas.
Al-kesah, maka tersebutlah pěrkata'an Sang Nata měnyuroh Warka Dalam memanggil Pateh Gajah Mada. Maka Warka Dalam pun menyembah lalu berjalan ka-rumah Pateh. Satelah sudah, ia menyampaikan titah Sang Nata katanya,
"Hai, kiaï Pateh dipanggil Sang Nata." Maka Pateh pun turun lalu berjalan.
Satělah sampai kapěseban agong, maka Pateh pun měnundok měnyembah Sang Nata lalu ia dudok. Maka sireh pada jorong perak pun diangkat orang kahadapan. Satělah sudah ia makan sireh, maka titah Sang Nata,
"Hai Pateh, apa bicharamu, baiklaah taalokkan negeri Pulau Pěrcha, karna ia belum taalok, sakalian negeri habis sudah taalok."
"Bawalah suatu hikmat kerbauku yang besar itu adu dengan kerbau Pateh Suatang, apabila ia alah, maka taalokkanlah oleh-mu sakali; apabila kita alah, maka kembali engkau sēgēra".
Maka Pateh Gajah Mada pun menyembah, lalu keluar mëngërahkan segala menteri dan penggawa dan segala rayat bala tenteranya berlengkap. Satelah sudah lengkap maka sakaliannya pun naiklah kaatas kelengkapan-nya dengan segala alat senjatanya: ada pun banyaknya segala kelengkapan itu limaratus dan penggawa penggawa yang tiga itu dan beberapa penggawa yang kechil-kěchil seperti Ngabihi dan Aria Lurah dan Bebekala Patinggi Kebayan dan segala rayat dua kěti.
Maka Sang Nata pun měmbëri përsalin segala penggawa dan dadar akan segala rayat, serta di-pěrjamunya makan minum tiga hari tiga malam. Satelah datanglah pada ketika yang baik, maka segala penggawa menteripun měnyembah Sang Nata dan běrmohon kapada Pateh Gajah Mada, lalu ia naik kělěngkapan-nya masing-masing, lalu bělayar měnuju něgěri Jambay. Běběrapa lama ia dilaut, maka sampailah ia ka Jambay. Satelah itu lalu ia mudek ka-ulu Jambay.
Maka terdengarlah khabar itu kapada Pateh Suatang; maka Pateh Suatang pun menghimpunkan segala hulubalang dan rayat akan mengalau-ngalaukan orang Jawa itu. Maka segala pěnggawa itu pun sampailah ia ka Periangan; maka ia berhentilah disana berbuat pesanggerahan. Satelah sudah, maka ia měnyuroh kapada Pateh Suatang saorang penggawa měmběri tahu ia hendak mengadu kerbau. Maka sampailah penggawa itu kapada Pateh Suatang, maka Pateh Suatang pun segeralah memberi hormat akan penggawa itu měnyuroh dudok. Maka penggawa itu pun dudoklah dengan taadzim-nya, lalu ia menyampaikan pesan penggawa yang besar itu, hendak mengadu kerbau Sang Nata itu. Ia janji tujoh hari Karna handak měnchari kerbau akan melawan kerbau Sang nata itu. Maka penggawa itu pun kembalilah ia menyampaikan kata Pateh Suatang itu kapada menteri yang tiga itu.
Satelah itu, maka tersebutlah përkata'an Pateh Suatang dengan Patrh Këtëmënggongan mengambil anak kěrbau yang baik. lagi sasa rupanya. Satelah sampai lima hari, maka medan Periangan pun diperbaiki orang; maka anak kerbau itu pun dikurongnya, tiada diběrinya menyusu. Satelah genaplah tujoh hari, maka segala rayatpün bersaf-saflah di medan (gelanggang) daripada kědua pihak itu, maka penggawa yang tiga itu pun berjanjilah ia dengan Pateh Suatang dan Pateh Këtëmënggongan; ada pun janjinya :
"jikalau kerbau Sang Nata Majapahit alah, kami sakalian orang Jawa memakai kain chara përěmpuan sampai ka-mata kaki dan jikalau tuan-tuan alah hendaklah tuan-tuan taalok kapada Sang Nata Majapahit.
Maka sahut Pateh Suatang "Baiklah."
Maka dilepaskanlah kerbaunya oleh orang Majapahit. Maka kěrbau itu pun sěpērti singa měnchari lawan-nya. Maka kerbau itu pun bermainlah di medan. Maka anak kerbau itu pun dilepaskan oleh Pateh Suatang; maka ia pun sangatlah lapar dahaga, lalu ia měnyěrbu sēpērti kilat mengisap kerampang kěrbau besar itu mengisap buah peler kerbau kěchil itu tiada lagi dilepaskan-nya. Maka kerbau besar itupun tērpusing-pusing tiada lagi ia berdaya hendak měnandok sukar karna dibawah kerampangnya. Maka ia lari kasana kamari itu pun tiada juga dilepaskan-nya buah pelernya oleh anak kerbau itu; maka kerbau besar itu pun mënjërit-jërit mënggulong-gulongkan dirinya, maka alah-lah kerbau Ratu Majapahit itu; maka sorak orangpun gëmuroh seperti tagar.
Maka penggawa yang tiga orang itu pun kemalu-maluan, lalu ia hendak kembali. Maka kata Pateh Suatang dan Pateh Këtëmënggongan "Ya, saudara hamba penggawa Sang Nata, berhentilah apa tuan hamba dahulu barang dua hari, karna hamba hendak bësuka-sukaan dengan tuan-tuan hamba, tanda kita muafakat, hamba hendak makan minum dengan tuan- tuan sakalian." Maka kata penggawa itu. "Baiklah jikalau tuan suka hamba berhenti."
Maka Pateh Suatang pun membunoh beberapa ratus kerbau lembu kambing itek ayam akan tambal; maka makan minum itu dengan beberapa ratus tapaian kilang dan bēram tampai. Maka di-isi-nya kapada buloh tělang segala minuman itu sa-ruas-ruas buloh serta di-panchong-nya tajam-tajam ujongnya, adalah banyaknya itu beribu-ribu minum-minuman itu.
Satelah sudah lengkap, maka kata Pateh Suatang pada segala hulubalang-nya dan segala rayat-nya. "Hai tuan-tuan sakalian, satelah sudah jamu kita makan, maka tuan-tuan datang minuman pada buloh tělang itu suatu saorang, lalu tuan-tuan tuangkan pada mulut-nya sama-sama saorang saorang. Sa-telah sudah ia mengangakan mulut lalu tuan-tuan sama-sama měradakkan, alamatnya apabila taboh berbunyi hendaklah sama-sama měradakkan supaya habis mereka itu mati."
Satelah sudah ia berwaad itu, maka oléh Pateh Suatang itu pun saorang hulubalangnya di-surohnya memberi tahu segala penggawa Jawa itu, suroh dudok bersaf-saf di-padang hampir negeri Periangan itu. Satelah sudah ia dudok beratur, maka segala ayer dan hidangan pun diangkat oranglah kahadapan segala penggawa itu dan segala men-tëri dan segala rayat.
Maka kata Pateh Suatang. "Santaplah segala kiaï-kiai akan jamu hamba orang Pulau Percha tiada dengan sepërtinya."
Maka kata segala penggawa itu, "Mënërima kasehlah hamba sakalian akan kaseh tuan-tuan sakalian."
Maka makanlah sakalian mereka itu masing-masing pada hidangan-nya. Satelah sudah ia makan, maka berdirilah segala hulubalang dan rayat membawa minuman itu saruas saorang buloh telang itu lalu ia hampirlah pada saorang saorang. Maka hendak disambutnya oleh orang Jawa itu tiada di-bërinya oleh segala rayat Pulau Percha itu, kata-nya. "Tiada demikian adat kami, melainkan kami juga menuangkan dia kapada mulut tuan-tuan akan memberi hormat jamu kami itu."
Maka sakalian-nya pun berngangalah. maka taboh pun berbunyi, maka sakalian-nya pun menuang lalu mēradakkan ka-kërëngkongan-nya. Maka satengah mereka itu habislah mati, dan satengah mereka itu lari, maka dalam padang itu beberapa banyaknya pohon-pohon bengkudu habis chondong ka-timur daripada dilanggar oleh segala rayat itu, sampai sekarang chondong juga bengkudu itu semuanya; jikalau tumboh anaknya chondong juga ia ka-timur.
Maka mayat sagala Jawa itu pun busoklah kapada padang itu, maka dinamainya tempat itu Padang Si-busok datang sekarang, dan tempat mengadu kerbau itu di-namaï-nya negeri itu Menangkabau datang sekarang ini.
Maka segala rayat yang lari itu pun pulanglah ka-Majapahit dengan mashghul-nya dan perchintanya, maka keluarlah ia dari Jambay lalu ia bëlayar menuju negeri itu, beberapa lamanya ia dilaut, maka sampailah ia ka Majapahit lalu naik kadarat sakalian-nya mengadap Sang Nata, serta bëpërsëmbahkan përihalnya daripada permulaan sampai akhirnya demikianlah halnya tuanku hal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar