Kamis, 27 Juni 2024

SUSUHUNAN PAKUBUWANA IX

  SUSUHUNAN PAKUBUWANA IX

Hari itu awal bulan Juni 1830 suasana Kraton Surakarta sangat genting. Sunan Pakubuwana VI ditangkap dan diasingkan di Ambon oleh Tentara Belanda sewaktu di Parangtritis. Nampak Raden Ayu Kusiah atau GKR Mas, garwa permaisuri Sunan Pakubuwana VI keluar dari Kraton Surakarta diiringi oleh familinya , saat itu beliau sedang mengandung tiga bulan calon putra Sunan Pakubuwana VI. Tujuannya ke wilayah Kepatihan Kraton Surakarta sesuai arahan Patih Sosrodiningrat II.
GKR Mas kemudian tinggal di salah satu Dalem ( rumah ) di lingkungan Kepatihan kelak Dalem tersebut dinamakan Dalem Kemasan. Meski tinggal di Dalem tersebut, GKR Mas posisinya sangat prihatin juga was was karena takut ada serangan dari orang yang tidak menginginkan kehamilannya dan kelahiran putranya.
Beberapa bulan kemudian tepatnya Rabu Kliwon tanggal 22 Desember 1830 lahirlah seorang bayi laki laki. Yang diberi nama Gusti Raden Mas Gusti Duksina.
GRM Duksina lahir kecil dan tumbuh tanpa sosok seorang ayah yang sebenarnya adalah Penguasa Nagari Surakarta Hadiningrat.
Kehidupan GRM Duksina diluar istana dan jauh dari kemewahan. Kondisi kehidupan yang berat dialami dan dijalani membuat GRM Duksina sering laku prihatin dan bersemedi hingga membentuk karakter Beliau menjadi kuat,tahan banting dan menaruh kebencian kepada penjajah.
Dilatar belakangi kehidupan yang sangat prihatin dan diwarnai berbagai kisah menyedihkan membuat beliau sejak remaja sering melakukan tapa brata dengan kungkum di sungai salah satunya Kedung Ngelayu, menyusuri sungai purba Bengawan Solo, beliau juga sering bertirakat dengan cara " ngeli " menghanyutkan diri di Bengawan Solo meski demikian, GRM Duksina tidak melupakan sholat lima waktu di masjid masjid yang ditemuinya ( Serat Wulang Dalem Pakubuwana IX )
Pada suatu hari GRM Duksina yang saat itu masih mengembara ke berbagai daerah. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kehidupan rakyat kecil didaerah daerah yang jauh dari lingkungan kraton. Pada suatu saat ketika Beliau sedang mengembara dan beristirahat dibawah pohon di daerah Pedukuhan Kalarean, Karena lelahnya beliau tertidur dibawah pohon tsb. Dalam tidurnya Beliau mendapatkan wangsit bahwa tempat tersebut bagus untuk dijadikan tempat lstirahat atau Pesanggrahan. Tetapi anehnya beliau ketika bangun tidak ingat akan mimpinya tersebut. Setelah beberapa tahun barulah beliau teringat akan wangsitnya. Singkat cerita ketika Beliau sudah menjadi Raja , dibangunlah Pesanggrahan di Pedukuhan Kalarean, dan kelak Pesanggrahan tersebut dinamakan Pesanggrahan Langenharja dan daerah Kalarean dirubah menjadi Pedukuhan Langenharja
GRM Duksina adalah seorang yang agamis
Setiap hari Jum’at beliau manfaatkan untuk menjalankan Shalat Jum’at di berbagai masjid kuno seperti Masjid Kayuapak, Masjid Wringin Pitu, Masjid petilasan Kyai Ageng Cinde Amoh, dan lain-lain. Banyak masjid dan mushola di wilayah Surakarta telah menjadi saksi pengembaraannya.
Kedekatannya dengan umat Islam tidak bisa dipungkiri. Sejak belia ia telah berguru kepada sejumlah pemuka Islam pada jamannya. Di antara guru-gurunya antara lain Ngabdulkahar di Ngruweng, Klaten , Kyai Hasan Mukmin dan Kyai Ahmad Ilham di Langenharjo.
Khusus terhadap Ngabdul Kahar, Pakubuwana IX memberikan gambaran tentang bagaimana kualitas sang guru dan metode yang digunakan dalam mengajar, dalam karyanya “Serat Sesingir” sebagai berikut:
“Kasmarane ingsun eling, wuwulange guruningwang, Ngabdulkahar wisma Ngruweng, alim tlaten yen memulang, kuwat umure dawa, nora sah ibadahipun, suprandene sugih garwa.
Lan bisa sajarah ngelmi, wiwit kan jeng Rasulullah, tumerah mring ingsun kiye, dadi wruh wite kang mulang, tan jamak esmu tama, mijil saking rasul mring putra prapteng manira.
Mangkana pantes linuri, wulange kawruh tetela, dadi tan kowar uruse, karo nalikane arsa, mulih mring rahmatullah, wus pitutur mring anak putu, iku wong waskiteng tindak”. (Kidung Sesingir)
[Dalam kecintaan aku ingat ajaran guruku, Ngabdulkahar yang tinggal di Ngruweng, berilmu dan telaten dalam mengajar, memiliki usia panjang, dan tidak usah (ditanyakan) ibadahnya, meski memiliki beberapa istri.
Juga bisa menjelaskan alur sejarah keilmuan sejak dari Rasulullah hingga sampai kepada aku ini, jadi bisa memahami asal pohon yang mengajar, tidak ragu lagi ini adalah keutamaan, ilmu yang berasal dari Rasulullah diwariskan ke pada anaknya dan sampai kepada kita.
Hal yang demikian patut dilestarikan, pengajaran ilmunya sangat jelas, jadi tidak akan menyesatkan urusannya, dan pada saat beliau hendak pulang ke rahmatullah ia sempat memberikan wasiat kepada anak istrinya, hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah bertindak awas (dengan memahami hal yang samar)
Ketika GRM Duksina dewasa, beliau dipanggil oleh Susuhunan Pakubuwana VII untuk tinggal dilingkungan kraton Surakarta ( sekarang menjadi Museum Kraton Surakarta ) dan memperoleh nama baru yaitu KGPH Hangabehi.
GRM Duksina diangkat sebagai putra mahkota Kraton Surakarta oleh Susuhunan Pakubuwana VII pada 5 Oktober 1857 dengan nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Prabhu Wijaya.
GRM Duksina dinobatkan menjadi Raja Kasunanan Surakarta pada tanggal 30 Desember 1861 dan disyahkan tanggal 27 Januari 1862 dengan gelar " Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun Kangdjeng Susuhunan Pakoeboewana Ing Ngalaga Abdulrahman Sayidin Panata Gama Kalifatulah Hingkang Kaping IX " atau lebih dikenal dengan sebutan Susuhunan Pakubuwana IX.
Sunan Pakubuwana IX menikah dengan Raden Ayu Kustiyah pada tanggal 4 Desember 1865.
dalam menunggu kehadiran putra laki laki calon penerus tahta, Sunan Pakubuwana IX tidak lupa tekun berdoa dan laku tapa brata. Beliau bertapa beralaskan selembar papan di atas bibir sumur yang terletak di lingkungan Kraton Surakarta. Hingga kemudian lahirlah seorang putra laki laki yg kelak bergelar Sunan Pakubuwana X . Sumur tersebut kelak dijuluki Sumur Sanga.
Alur Silsilah Sampeyandalem Hingkang Sinuhun P.B.IX:
Ayahandanya adalah Sunan Pakubuwana VI sedangkan ibunya adalah putri dari KGPH Mangkubumi ( Putra Sunan Pakubuwana III )
Silsilah Ibunda G.K.R. Mas, yaitu :
1. Pangeran Adipati Benawa di Pajang, berputra :
2. Pangeran Kaputran di Pajang, berputra :
3. Pangeran Danupoyo, berputra :
4. Ki Singaprana di Walen, berputra :
5. Kyai Ageng Singaprana, berputra :
6. Ki Singawangsa, berputra :
7. R.Tasikwulan istri selir K.G.P.Adip.Mangkubumi, berputra :
8. G.K.R. Mas istri permaisuri Sri Susuhunan P.B.VI, berputra :
9. Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan P.B.IX, bernama kecil B.R.M.G. Duksina
Istri selir Sri Susuhunan P.B.IX ada 53 orang, yang berputra ada 29 orang, dan yang tidak berputra 24 orang.
Sedangkan para putra-putri Sri Susuhunan P.B.IX ada 58 orang.
Adapun rinciannya sebagai berikut :
1. K.G.P.H. Prabuwijoyo bernama kecil G.R.M. Adamadi
2. G.R.Ay. Suryodipuro, bernama kecil G.R.Aj.Samsikin.
3. K.G.P.H. Mataram, bernama kecil G.R.M.Kanapi
4. G.R.Ay.Wiryodiningrat,bernama kecil G.R.Aj.Rachmaniyah.
5. K.P.H.Notokusumo bernama kecil G.R.M.Suroto
6. G.R.Ay. Sumaningrat, bernama kecil G.R.Aj.Samsimah.
7. G.P.H. Hadikusumo, bernama kecil G.R.M. Rahmad.
8. G.R.Aj.Samsiyah, meninggal di usia masih muda.
9. G.R.Aj. Suratiah, meninggal di usia masih muda.
10. G.R.Ay.A.Sosrodiningrat, bernama kecil G.R.Aj.Samsinah.
11. G.P.H. Mloyokusumo I, bernama kecil G.R.M. Sutrisno, meninggal dan tidak mempunyai keturunan.
12. G.P.H. Nyokrokusumo, bernama kecil G.R.M. Sanitiyasa.
13. G.R.Ay. Brotokusumo, bernama kecil G.R.Aj. Siti Suwiyah.
14. G.R.Aj. Siti Kabibah, meninggal di usia dewasa.
15. G.R.Ay. Purbonegoro, bernama kecil G.R.Aj. Umi Kaltum
16. G.R.Aj. Siti Ruwiyah, meninggal di usia muda.
17. G.P.H. Cakraningrat, bernama kecil G.R.M. Susetya, meninggal dan tidak berputra.
18. G.R.Ay. Suryonegoro, bernama kecil G.R.Aj. Kamariyah.
19. G.R.M. Susanto, meninggal di usia dewasa.
20. G.P.H. Pakuningrat, bernama kecil G.R.M. Imam Dawut.
21. G.P.H. Kusumodiningrat, bernama kecil G.R.M. Guntur.
22. G.P.H. Prabuningrat, bernama kecil G.R.M. Sutindro.
23. G.R.Aj. Sudarmi, meninggal di usaia muda.
24. G.P.H. Purbodiningrat, bernama kecil G.R.M. Abadi (G.R.M.Koesen).
25. G.R.Ay.Jayaningrat, bernama kecil G.R.Aj. Sutaji.
26. G.R.Ay.Pawiraningrat, bernama kecil G.R.Aj.Siti Kabirin.
27. G.R.Aj.Siti Suimah, meninggal di usia muda.
28. G.R.Aj.Sulalis, meninggal di usia dewasa
29. G.P.H. Cokrodiningrat, bernama kecil G.R.M. Satriyo.
30. G.R.Ay.Yudonegoro, bernama kecil G.R.Aj.Saptirin
31. Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan P.B.X, bernama kecil B.R.M.G. Malikul Choesno.
32. G.R.M. Sunoto, meninggal di usia muda.
33. G.R.Ay.Danuningrat, bernama kecil G.R.Aj.Siti Mulat.
34. G.P.H. Cakraningrat II, bernama kecil G.R.M. Sudarmaji
35. G.R.Aj.Sutati, meninggal di usia dewasa.
36. G.R.Ay. Brotojoyo, bernama kecil G.R.Aj. Siti Atikah.
37. G.R.Ay.Adip. Joyohadiningrat, bernama kecil G.R.Aj. Muryati.
38. G.P.H. Kusumodilogo, bernama kecil G.R.M. Sudarmojo.
39. G.R.M. Sudarmadi, meninggal di usia dewasa.
40. G.R.Ay.Condronegoro, bernama kecil G.R.Aj. Sudinah.
41. G.R.Ay. Joyodiningrat, bernama kecil G.R.Aj. Suliyah.
42. G.R.M. Danangjoyo, meninggal di usia muda.
43. G.R.M. Suseda, meninggal di usia muda.
44. G.R.M. Minak Sunoyo, meninggal di usia dewasa.
45. G.P.H. Mangkudiningrat, bernama kecil G.R.M. Subakdo.
46. G.P.H. Hadiningrat, bernama kecil G.R.M. Harjuna.
47. G.R.Ay.Condronegoro, bernama kecil G.R.Aj. Suparti.
48. G.P.H. Mloyokusumo, bernama kecil G.R.M. Wiyadi.
49. G.R.M. Ibnu Mulki, meninggal di usia muda.
50. G.P.H. Sontokusumo, bernama kecil G.R.M. Rustamaji.
51. G.P.H. Prabumijoyo, bernama kecil G.R.M. Siswaji.
52. G.R.Aj. Siti Imamah, meninggal di usia muda.
53. G.R.M. Suwito, meninggal di usia muda.
54. G.R.Ay. Mangkukusumo, bernama kecil G.R.Aj. Sejarah Bangun.
55. G.R.M. Pamade, meninggal di usia dewasa.
56. G.P.H. Notodiningrat, bernama kecil G.R.M. Janoko.
57. G.R.M. Sutrono, meninggal di usia muda.
58. G.P.H. Prabuwinoto, bernama kecil G.R.M. Narayana
Susuhunan Pakubuwana IX banyak merenovasi bangunan Kraton Surakarta
Hingga beliau dijuluki " Sinuhun Mbangun Kedaton" salah satunya Panggung Sanggabuwana yang rusak akibat gempa, pada tanggal 19 Mei 1869.
Mengganti tiang Paningrat dengan bahan besi tanggal 25 juni 1880
Membangun Bangsal Malige Maderengga untuk supit Putra mahkota, tanggal 10 Maret 1882
Membuat Dandang Kyai Tambur untuk upacara setiap Tahun Dhal.
Mendirikan Pesanggrahan Langenharjo tahun 1870
Mendirikan Pesanggrahan Parangjoro
Selain menjalankan aktivitas sehari-hari dalam urusan pemerintahan, beliau juga memanfaatkan waktunya untuk menulis. Sunan Pakubuwana IX salah satu raja yang cukup banyak menghasilkan karya sastra. Diantara ciri khas karyanya selalu mengajak manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta dengan memahami Al Quran dan Sunah Nabi-Nya serta mencari guru yang baik dan memahami agama.
Di masa pemerintahannya, Pakubuwono IX aktif menulis karya sastra. Berikut ini beberapa karyanya.
Serat Wulang Puteri
Serat Jayeng Sastra
Serat Menak Cina
Serat Wirayatna
Karya-karya Pakubuwono IX sarat akan nasihat, seperti tuntunan agar memiliki kepercayaan yang penuh terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keteguhan iman yang kuat dalam menjalani hidup, dan mempunyai budi pekerti yang luhur.
Selain itu, karya-karyanya juga memuat tentang berbagai macam kebahagiaan hidup, yang hendaknya ditempuh dengan jalan tapa brata guna membersihkan dari pikiran dan perbuatan yang kurang baik.
Dalam memimpin kerajaan , Raja berpedoman dengan Kitab Al Qur' an tertulis dalam karya beliau Kidung Sesingir , pupuh XXIV Dandang Gula bait 3:
" Agama iku perlune yekti, pikukuhe tetimbanganing tyas, nistha madya utamane, mung iku rasanipun dalil Hadist kang den semoni supaya animbanga, sanguning para ratu ,wadya kan sawalang karsa, pinrih sirep saking kuwasaning aji wewaton kitab Quran "
( Agama itu nyata diperlukan sebagai patokan dalam pertimbangan hati untuk menentukan apa apa yang buruk, pertengahan dan baik.
Hanya itu yang dikupas oleh dalil Hadist, agar para raja bisa menimbang. Bawahan ,rakyat dan pegawai negara hendaknya hidup damai dipimpin oleh raja dengan berpedoman kitab Al Qur'an. )
Naskah tsb tersimpan diperpustakaan Reksopustoko Mangkunegaran no koleksi A.52 dengan nama Serat Piwulang Yasan Dalem Ingkang Sinuwun PB kaping IX.
Sedangkan di museum Radyapustaka no koleksi RP 108.0 306 ( 370.114 Reel 16 - 28 / 16 )
Sinuhun Pakubuwana IX wafat di Dalem Ageng Sono Prabu pada hari Jumat Legi 17 Maret 1893, pukul 07.00 Wib dalam usia 63 tahun . Atau 28 Ruwah tahun Je wuku Marakeh Windu Sangara 1822 Jawa dan dimakamkan di Imogiri.
Ditulis oleh K.R.T Koes Sajid Jayaningrat





Tidak ada komentar:

Posting Komentar