Kerajaan Pajajaran, juga dikenal sebagai Kerajaan Sunda, adalah salah satu kerajaan besar di wilayah Jawa Barat pada masa lalu. Kerajaan ini memiliki sejarah yang kaya dan berpengaruh dalam perkembangan budaya dan politik di Nusantara. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang Kerajaan Pajajaran:
Latar Belakang dan Sejarah Pendirian dan Wilayah:
Kerajaan Pajajaran didirikan sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi dan berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Bogor, Jawa Barat.
Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar Jawa Barat, termasuk daerah yang kini menjadi Banten, Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah bagian barat.
Nama dan Ibu Kota:
Ibu kota Kerajaan Pajajaran dikenal sebagai Pakuan Pajajaran atau Dayeuh Pakuan. Nama "Pajajaran" berarti "berdampingan" atau "berjajar," yang mungkin merujuk pada tata kota atau posisi geografisnya.
Masa Keemasan:
Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (sekitar akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16). Pada masa ini, Pajajaran dikenal sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang penting.
Struktur dan Pemerintahan
Raja-Raja Terkemuka:
Beberapa raja terkenal dari Kerajaan Pajajaran termasuk:
Prabu Siliwangi: Salah satu raja yang paling legendaris dan dihormati dalam sejarah Sunda.
Raja Linggabuana: Ayah dari Dyah Pitaloka yang tewas dalam Peristiwa Bubat.
Sistem Pemerintahan:
Kerajaan Pajajaran memiliki struktur pemerintahan yang terorganisir dengan baik, termasuk adanya pejabat tinggi seperti patih, demung, dan rangga yang membantu raja dalam menjalankan pemerintahan.
Budaya dan Agama
Agama:
Kerajaan Pajajaran menganut agama Hindu-Buddha sebelum pengaruh Islam mulai masuk ke wilayah Jawa Barat. Peninggalan budaya dan keagamaan banyak ditemukan dalam bentuk candi dan prasasti.
Sastra dan Kesenian:
Kerajaan Pajajaran memiliki tradisi sastra yang kaya, termasuk karya-karya seperti "Carita Parahyangan" dan "Kidung Sunda."
Kesenian seperti wayang, tari-tarian, dan musik tradisional berkembang pesat di bawah naungan kerajaan ini.
Kejatuhan Kerajaan Pajajaran
Pengaruh Islam:
Pada abad ke-16, pengaruh Islam mulai menyebar luas di wilayah Jawa Barat, terutama melalui Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.
Serangan dari Banten:
Kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh akibat serangan dari Kesultanan Banten pada tahun 1579. Sultan Maulana Yusuf dari Banten memimpin serangan yang berhasil menguasai ibu kota Pakuan Pajajaran.
Akhir Kerajaan:
Setelah runtuhnya ibu kota, sisa-sisa Kerajaan Pajajaran terus berjuang untuk mempertahankan identitas dan budaya Sunda. Namun, pengaruh politik dan militer Banten semakin kuat, sehingga kerajaan ini tidak dapat bangkit kembali.
Warisan dan Peninggalan
Situs Sejarah:
Beberapa situs sejarah yang terkait dengan Kerajaan Pajajaran, seperti Prasasti Batu Tulis di Bogor, masih bisa ditemukan dan menjadi objek penelitian serta wisata sejarah.
Pengaruh Budaya:
Warisan budaya dan sejarah Pajajaran masih terasa kuat dalam masyarakat Sunda hingga saat ini. Cerita-cerita tentang Prabu Siliwangi dan kebesaran Pajajaran menjadi bagian penting dari identitas budaya Sunda.
Kesadaran Sejarah:
Berbagai upaya dilakukan oleh sejarawan dan budayawan untuk menggali dan melestarikan peninggalan serta cerita dari Kerajaan Pajajaran, sebagai bagian penting dari sejarah Nusantara.
Kesimpulan
Penulis: Young Yiee
KERATON KERAJAAN PAJAJARAN
Keraton Kerajaan Pajajaran kini memang tidak berbekas, namun bukan berarti tidak ada sumber sejarah yang menceritakan mengenai Rupa dan Wujud Keraton itu.
Menurut Carita Parahiyangan fragmen K 406 Kloksi dari Museum Nasional Jakarta, bahwa nama dari Keraton Kerajaan Pajajaran (Sunda) adalah "Sri Bima, Punta, Narayana Madura Suradipati". Keraton pada mulanya dibangun oleh Maharaja Tarusbawa (Raja Sunda Pertama, Menjabat Pada 669 - 723).
Menurut Poerbatjaraka, bahwa panjangnya Nama Keraton/Kedaton Kerajaan Pajajaran mengindikasihkan jika dalam komplek Keraton terdapat Bangunan Lima Bangunan Utama yaitu Bangunan yang dinamai (1) Sri Bima (2) Punta (3) Narayana (4) Madura (5) Suradipati. Menurutnya bahawa kelima Bangunan Keraton ("panca
persada" (lima keraton) tersebut berdiri berjejer menjulang tinggi. Hal ini juga sesuai dengan Catatan Orang-Orang Portugis ketika mengunjungi Ibu Kota Kerajaan (1512 dan 1522). Menurut mereka (orang Portugis) ibukota Pajajaran
bisa dicapai setelah dua hari perjalanan menyususri sungai. Bangunan keratonnya
berjajar dan menjulang tinggi, terbuat dari kayu yang ditopang dengan tiang-tiang
sebesar drum, tampak indah berhiaskan relief-relief. (Danasasmita, 2014)
Sementara itu letak Keraton berada di Pakuan Pajajaran yang merupakan ibu kota Kerajaan Lokasinya berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang. ibukota Pajajaran
bisa dicapai setelah dua hari perjalanan menyususri sungai. Bangunan keratonnya
berjajar dan menjulang tinggi, terbuat dari kayu yang ditopang dengan tiang-tiang
sebesar drum, tampak indah berhiaskan relief-relief. (Danasasmita, 2014)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar